Menjelang ibadah haji atau umrah, salah satu persiapan fisik yang seringkali menimbulkan sedikit kebingungan bagi laki-laki adalah bagaimana cara memakai kain ihram dengan benar. Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana agar kainnya tidak melorot saat tawaf atau sa’i? Apakah ada trik khusus agar tetap rapi dan nyaman selama beribadah? Jika pertanyaan-pertanyaan ini ada di benak Anda, maka Anda berada di tempat yang tepat. Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah, agar Anda bisa memakai kain ihram dengan percaya diri dan fokus penuh pada ibadah Anda.
Kain ihram, bagi laki-laki, adalah pakaian khusus yang terdiri dari dua lembar kain putih tanpa jahitan. Ini merupakan simbol kesederhanaan, kesetaraan di hadapan Allah, dan juga penanda dimulainya rangkaian ibadah haji atau umrah. Memakainya dengan benar bukan hanya soal kerapian, tetapi juga bagian dari kesempurnaan ibadah itu sendiri.
1. Memahami Dua Lembar Kain Ihram: Izar dan Rida’
Sebelum kita melangkah ke praktik, penting untuk memahami fungsi dari masing-masing lembar kain ihram yang Anda miliki. Ini akan sangat membantu Anda dalam proses pemakaiannya nanti.
Kain Izar: Penutup Tubuh Bagian Bawah
Izar adalah kain yang akan Anda gunakan untuk menutupi bagian bawah tubuh, mulai dari pinggang hingga mata kaki. Fungsi utamanya adalah sebagai pengganti celana atau sarung. Banyak jemaah khawatir kain ini mudah melorot, namun dengan teknik yang tepat, Anda bisa membuatnya kokoh.
Kain Rida’: Penutup Tubuh Bagian Atas
Rida’ adalah kain kedua yang akan Anda kenakan untuk menutupi bagian atas tubuh, dari bahu hingga pinggang. Kain ini berfungsi seperti selendang atau syal. Saat melaksanakan tawaf di awal umrah/haji, ada tata cara khusus yang disebut idhtiba’, di mana bahu kanan akan dibuka.
2. Persiapan Awal Sebelum Mengenakan Ihram
Langkah awal ini sangat krusial untuk memastikan kenyamanan Anda selama berihram. Persiapan yang baik akan membuat proses memakai kain ihram menjadi lebih mudah dan efektif.
-
Mandi Sunnah Ihram
Sebelum mengenakan kain ihram, disunnahkan untuk mandi besar (ghusl). Ini bukan hanya membersihkan fisik, tetapi juga sebagai bentuk kesiapan spiritual. Pastikan Anda sudah bersih dan wangi.
-
Memotong Kuku dan Merapikan Rambut
Disunnahkan juga untuk memotong kuku, mencukur kumis, atau merapikan rambut sebelum berniat ihram. Ini dilakukan agar tidak ada yang perlu dirapikan lagi setelah Anda masuk dalam keadaan ihram.
-
Pilih Kain Ihram yang Tepat
Pilih kain ihram yang nyaman, tidak terlalu tipis atau transparan, dan terbuat dari bahan yang menyerap keringat. Katun biasanya menjadi pilihan favorit banyak jemaah karena adem dan tidak licin.
3. Langkah Demi Langkah Memakai Izar (Kain Bawah)
Bagian ini adalah inti dari cara memakai kain ihram bagi laki-laki. Fokus pada langkah ini agar kain izar Anda tetap aman dan tidak mudah melorot.
-
Pastikan Kain Cukup Lebar
Bentangkan kain izar Anda. Pastikan tingginya cukup untuk menutupi dari pinggang hingga mata kaki, dan lebarnya cukup untuk melilit tubuh Anda dengan sisa yang memadai.
-
Posisikan dan Lilitkan
Pegang ujung atas kain izar di depan pusar Anda. Lilitkan kain mengelilingi pinggang Anda, mulai dari sisi kanan ke kiri atau sebaliknya, pastikan ia menutupi aurat dengan sempurna.
-
Kunci dengan Lipatan Kuat
Setelah kain melilit, kunci dengan membuat lipatan kuat di bagian depan, tepat di atas pusar. Gulung sedikit bagian atas kain ke bawah, lalu lipat ke dalam. Tarik dan kencangkan agar tidak mudah lepas. Saya sering menyarankan jemaah untuk membayangkan seperti melipat sarung agar kokoh.
Contoh: Bayangkan Anda sedang melilitkan handuk setelah mandi. Kunci utamanya ada pada lipatan di bagian pinggang yang ditarik kencang dan dilipat ke bawah, bukan hanya diselipkan.
-
Periksa Keamanan
Setelah itu, coba berjalan beberapa langkah, duduk, dan berdiri. Pastikan kain izar tidak melorot dan nyaman untuk bergerak. Jika terasa longgar, ulangi pengikatan hingga benar-benar kokoh.
4. Langkah Demi Langkah Memakai Rida’ (Kain Atas)
Setelah izar terpasang sempurna, kini giliran rida’. Memakai rida’ ini cenderung lebih mudah, namun ada detail penting yang perlu diperhatikan terutama saat tawaf.
-
Sampirkan di Pundak
Ambil kain rida’ dan sampirkan di kedua bahu Anda, seperti memakai selendang. Pastikan kedua ujung kain menjuntai di depan dan belakang tubuh, menutupi seluruh punggung dan dada.
-
Posisi Normal
Dalam kondisi normal (tidak sedang tawaf), rida’ harus menutupi kedua bahu Anda dengan sempurna. Ini adalah posisi yang akan Anda gunakan saat shalat atau di luar pelaksanaan tawaf.
-
Posisi Idhtiba’ (Saat Tawaf)
Ketika Anda akan melaksanakan tawaf (terutama tawaf qudum/tawaf umrah), lakukan idhtiba’. Caranya adalah dengan menyelipkan ujung kain rida’ bagian kanan dari bawah ketiak kanan, lalu sampirkan ke bahu kiri. Ini akan membuat bahu kanan Anda terbuka.
Skenario: Anda baru tiba di Masjidil Haram dan akan melakukan tawaf umrah. Setelah berwudhu dan memastikan izar kokoh, Anda akan memposisikan rida’ Anda dalam keadaan idhtiba’. Setelah tawaf selesai, Anda kembalikan rida’ ke posisi normal, menutupi kedua bahu Anda.
5. Tips Praktis Memakai Kain Ihram agar Tetap Nyaman
Kenyamanan adalah kunci agar Anda bisa fokus beribadah. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda terapkan.
-
Latihan di Rumah: Jangan menunggu sampai di Miqat. Latihlah cara memakai kain ihram bagi laki-laki ini beberapa kali di rumah agar Anda terbiasa dan menemukan cara yang paling pas untuk bentuk tubuh Anda.
-
Pilih Bahan Kain yang Tepat: Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahan katun tebal sering menjadi pilihan terbaik karena tidak licin dan lebih menyerap keringat. Hindari bahan sintetis yang mudah panas.
-
Gunakan Sabuk Khusus Ihram (Jika Diperlukan): Beberapa jemaah merasa lebih aman dengan menggunakan sabuk ihram atau sabuk uang di atas kain izar. Ini bisa membantu mengunci izar agar tidak mudah melorot, selama tidak ada jahitan atau jahitan tersembunyi. Pastikan sabuk ini tidak ada unsur jahitan seperti celana.
-
Bawa Cadangan Kain Ihram: Untuk mengantisipasi kain kotor atau basah, membawa satu set kain ihram cadangan sangat disarankan.
-
Jaga Kebersihan: Meskipun tidak boleh menggunakan sabun wangi, menjaga kebersihan kain ihram sangat penting. Segera ganti jika basah atau kotor agar Anda tetap nyaman.
FAQ Seputar Cara Memakai Kain Ihram bagi Laki-laki
Berikut adalah beberapa pertanyaan umum yang sering muncul terkait pemakaian kain ihram bagi laki-laki, beserta jawabannya.
Apakah boleh memakai celana dalam atau pakaian dalam di bawah kain ihram?
Tidak boleh. Salah satu larangan ihram bagi laki-laki adalah memakai pakaian berjahit, termasuk celana dalam atau kaos dalam. Kain ihram harus langsung bersentuhan dengan kulit.
Bagaimana jika kain ihram kotor atau basah? Apakah harus ganti?
Disunnahkan untuk mengganti atau membersihkan kain ihram jika kotor atau basah agar Anda tetap nyaman dan menjaga kebersihan. Tidak ada larangan untuk mengganti kain ihram selama masih dalam keadaan ihram.
Bolehkah memakai peniti atau klip untuk mengamankan kain ihram?
Menurut sebagian besar ulama, penggunaan peniti atau klip untuk mengamankan kain ihram hukumnya makruh atau bahkan tidak diperbolehkan jika dianggap sebagai jahitan yang menyatukan dua sisi kain. Namun, jika tujuannya hanya untuk menahan kain agar tidak lepas tanpa menjahit atau menyambung, maka ada kelonggaran. Sebagai bentuk kehati-hatian, sebisa mungkin hindari dan andalkan teknik ikatan yang kuat.
Sampai kapan posisi idhtiba’ (membuka bahu kanan) harus dilakukan?
Posisi idhtiba’ hanya dilakukan selama tujuh putaran tawaf pertama (tawaf qudum/umrah). Setelah selesai tawaf, kain rida’ harus segera dikembalikan ke posisi semula, yaitu menutupi kedua bahu.
Bagaimana cara memastikan kain ihram tidak melorot saat shalat atau sujud?
Kuncinya adalah pada pengikatan izar yang kuat di awal. Saat sujud, pastikan kain izar tidak terlalu rendah sehingga aurat tetap tertutup. Anda bisa sedikit menarik bagian atas izar ke atas saat rukuk dan sujud untuk memastikan keamanan. Jangan takut untuk sedikit menyesuaikan posisi kain saat sedang beribadah.
Kesimpulan
Memakai kain ihram bagi laki-laki memang memerlukan sedikit latihan dan pemahaman, namun ini bukanlah hal yang sulit. Dengan mengetahui fungsi izar dan rida’, melakukan persiapan yang tepat, serta menguasai teknik pengikatan yang kuat, Anda akan merasa nyaman dan percaya diri selama beribadah. Ingatlah, fokus utama kita adalah pada kekhusyukan ibadah kepada Allah SWT. Jangan biarkan keraguan tentang pakaian mengganggu konsentrasi Anda.
Sekarang, setelah Anda membaca panduan ini, cobalah praktikkan di rumah. Semakin Anda terbiasa, semakin mudah Anda akan melakukannya di Tanah Suci nanti. Semoga ibadah Anda lancar, mabrur, dan penuh berkah. Selamat menunaikan ibadah!