Kehilangan orang tercinta adalah salah satu fase terberat dalam hidup. Di tengah duka mendalam, seringkali muncul berbagai pertanyaan praktis, termasuk tentang bagaimana cara menghormati mendiang sesuai tradisi. Salah satu tradisi yang kaya makna di Indonesia, khususnya di Jawa, adalah selamatan untuk mendoakan almarhum.
Mungkin Anda sedang mencari tahu, “Bagaimana sih cara menghitung hari selamatan orang meninggal itu?” Jangan khawatir, Anda tidak sendiri. Banyak keluarga merasa bingung dengan perhitungan yang melibatkan kalender Jawa dan berbagai tahapan selamatan.
Artikel ini hadir sebagai panduan lengkap untuk Anda. Saya akan membagikan pengetahuan ini dengan bahasa yang mudah dipahami, layaknya seorang mentor yang ingin Anda merasa percaya diri dalam menjalankan tradisi ini.
Kita akan mengupas tuntas mulai dari dasar perhitungannya hingga tips praktis yang bisa Anda terapkan.
Memahami Konsep Selamatan dan Kalender sebagai Dasar Perhitungan
Sebelum masuk ke angka-angka, mari kita pahami dulu esensi dari selamatan orang meninggal.
Selamatan adalah serangkaian ritual doa dan syukuran yang diadakan pada hari-hari tertentu setelah seseorang meninggal dunia. Tujuannya adalah mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, serta sebagai bentuk penghormatan dan pengingat bagi keluarga yang ditinggalkan.
Perhitungan hari selamatan ini umumnya menggunakan kombinasi kalender Masehi (Gregorian), Hijriah, dan penanggalan Jawa (terutama pasaran).
Kalender Jawa memiliki lima hari pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasi hari Masehi/Hijriah dengan pasaran inilah yang membentuk “weton” dan menjadi kunci dalam beberapa perhitungan selamatan.
1. Hari Pertama Wafat sebagai Titik Awal Perhitungan
Langkah paling fundamental adalah menentukan hari wafat almarhum. Hari wafat ini akan selalu dihitung sebagai “Hari ke-1” dalam seluruh rangkaian perhitungan selamatan.
Contoh Praktis Penentuan Hari Pertama
- Jika seseorang meninggal pada hari Sabtu, tanggal 1 Januari 2024, maka Sabtu, 1 Januari 2024, adalah Hari ke-1.
- Meskipun duka menyelimuti, segera catat tanggal dan hari pasaran wafat. Ini akan sangat membantu di kemudian hari.
Anda bisa menggunakan kalender Jawa online atau bertanya kepada orang yang paham untuk mengetahui hari pasaran wafat tersebut. Misalnya, jika meninggal pada Senin Kliwon, catatlah “Senin Kliwon” sebagai weton wafat.
2. Selamatan Nujuh Hari (Hari ke-7)
Selamatan “Nujuh Hari” atau “Tujuh Hari” adalah selamatan pertama yang biasanya diadakan. Ini adalah momen penting bagi keluarga untuk berkumpul dan mendoakan almarhum setelah melewati pekan pertama kepergian.
Cara Menghitung Nujuh Hari
- Metode Umum (Hari Masehi): Hitung tujuh hari dari hari wafat (termasuk hari wafat itu sendiri sebagai hari ke-1).
- Metode Jawa (Weton): Selamatan Nujuh Hari seringkali diadakan pada hari pasaran yang sama dengan hari wafat di minggu berikutnya.
Mari kita ilustrasikan:
- Jika Almarhum Bapak Budi wafat pada hari Senin, 10 Januari 2024 (misalnya Senin Legi).
- Metode Umum: Hari ke-7 jatuh pada hari Minggu, 16 Januari 2024.
- Metode Jawa (yang sering dipakai): Selamatan diadakan pada Senin Legi berikutnya, yaitu tanggal 17 Januari 2024. Ini karena tradisi Jawa meyakini siklus 7 hari akan kembali pada weton yang sama.
Penting untuk mengkonfirmasi dengan sesepuh atau keluarga inti metode mana yang biasa mereka gunakan, karena praktik bisa sedikit bervariasi.
3. Selamatan Patang Puluh Hari (Hari ke-40)
Ini adalah selamatan penting berikutnya, menandakan 40 hari kepergian almarhum. Dalam kepercayaan tertentu, 40 hari diyakini sebagai periode transisi roh. Perhitungannya cukup lurus ke depan.
Langkah Mudah Menghitung Patang Puluh Hari
- Cukup tambahkan 39 hari ke tanggal wafat. Hari wafat adalah Hari ke-1, jadi selamatan Patang Puluh Hari adalah hari ke-40.
Sebagai contoh nyata:
- Almarhum Ibu Siti wafat pada hari Jumat, 5 Februari 2024.
- Untuk mencari Patang Puluh Hari, kita hitung 40 hari setelah Jumat, 5 Februari 2024.
- Patang Puluh Hari akan jatuh pada hari Selasa, 15 Maret 2024.
Anda bisa menggunakan kalender biasa untuk menandai tanggal ini. Ini adalah selamatan yang cukup besar dan biasanya dihadiri lebih banyak kerabat dan tetangga.
4. Selamatan Satus Hari (Hari ke-100)
Selamatan ini diadakan untuk mengenang 100 hari wafatnya almarhum. Seperti halnya Patang Puluh Hari, perhitungannya juga cukup sederhana.
Menentukan Hari ke-100
- Tambahkan 99 hari ke tanggal wafat almarhum.
Mari kita gunakan skenario:
- Almarhum Bapak Joko wafat pada hari Minggu, 1 Maret 2024.
- Maka, Satus Hari akan jatuh pada hari ke-100 setelahnya, yaitu sekitar Jumat, 7 Juni 2024.
Selamatan Satus Hari seringkali menjadi penanda bahwa keluarga mulai kembali menata hidup setelah periode duka yang intens.
5. Selamatan Pendak Sepisan (1 Tahun) dan Pendak Pindo (2 Tahun)
Setelah periode Satus Hari, selamatan selanjutnya adalah peringatan tahunan. Ini dikenal sebagai “Pendak Sepisan” (peringatan satu tahun) dan “Pendak Pindo” (peringatan dua tahun).
Perhitungan Hari Pendak
- Pendak Sepisan: Diadakan sekitar satu tahun setelah wafat. Ada dua pendekatan:
- Hitungan Masehi: Tepat 365 hari setelah tanggal wafat.
- Hitungan Jawa: Diadakan pada hari weton yang sama dengan hari wafat, pada tahun berikutnya. Ini yang lebih sering diikuti di banyak daerah.
- Pendak Pindo: Diadakan dua tahun setelah wafat, dengan metode perhitungan yang sama dengan Pendak Sepisan.
Contohnya:
- Almarhumah Ibu Ani wafat pada hari Rabu Pon, 15 April 2023.
- Pendak Sepisan (1 Tahun): Akan diadakan sekitar 15 April 2024. Jika menggunakan weton, akan dicari hari Rabu Pon terdekat di bulan April 2024.
- Pendak Pindo (2 Tahun): Akan diadakan sekitar 15 April 2025. Sekali lagi, dicari hari Rabu Pon terdekat di bulan April 2025.
Perayaan pendak ini seringkali disertai dengan pembersihan makam dan acara doa yang lebih besar.
6. Selamatan Nyewu (1000 Hari)
Selamatan Nyewu atau “Seribu Hari” adalah puncak dari serangkaian peringatan selamatan ini. Ini dianggap sebagai penutup dari masa berkabung intens, meskipun doa untuk almarhum akan terus mengalir.
Menemukan Tanggal Nyewu
- Tambahkan 999 hari ke tanggal wafat almarhum.
Skenario untuk Nyewu:
- Almarhum Bapak Wibowo wafat pada hari Kamis, 10 Maret 2023.
- Untuk Nyewu, kita hitung 1000 hari setelah 10 Maret 2023.
- Nyewu akan jatuh pada sekitar Minggu, 5 Desember 2025.
Selamatan Nyewu seringkali menjadi acara yang paling besar dan berkesan, menandai berakhirnya periode selamatan wajib menurut adat.
Tips Praktis Menerapkan Cara Menghitung Hari Selamatan Orang Meninggal
Memahami teori perhitungan itu satu hal, namun melaksanakannya di tengah kesibukan dan duka adalah tantangan lain. Berikut beberapa tips praktis untuk Anda:
- Catat Detail Wafat: Segera catat tanggal wafat (Masehi/Hijriah), hari dalam seminggu, dan hari pasaran Jawa (weton) almarhum. Ini adalah data paling penting.
- Gunakan Kalender Jawa: Banyak aplikasi atau situs web kalender Jawa yang bisa membantu Anda mengkonversi tanggal Masehi ke Jawa dan sebaliknya. Ini sangat praktis.
- Diskusikan dengan Keluarga Inti: Pastikan semua anggota keluarga yang berkepentingan sepakat dengan metode perhitungan dan tanggal pelaksanaannya. Terkadang ada sedikit perbedaan adat antar keluarga atau daerah.
- Libatkan Tokoh Agama/Adat: Jika ragu, jangan sungkan bertanya kepada ustadz, kyai, atau sesepuh adat setempat yang paham tentang tradisi ini. Mereka bisa memberikan pencerahan dan validasi.
- Buat Jadwal Jauh Hari: Setelah tanggal selamatan utama (7, 40, 100, 1000 hari, dan Pendak) diketahui, catat di kalender Anda. Ini membantu dalam perencanaan logistik, undangan, dan persiapan lainnya.
- Fokus pada Esensi: Ingatlah bahwa tujuan utama selamatan adalah mendoakan almarhum dan mempererat tali silaturahmi. Jangan sampai beban persiapan mengalahkan makna yang sesungguhnya.
FAQ Seputar Cara menghitung hari selamatan orang meninggal
Saya tahu Anda mungkin punya beberapa pertanyaan lagi. Mari kita jawab yang paling sering muncul:
Apakah perhitungan ini sama untuk semua daerah di Indonesia?
Tidak sepenuhnya. Meskipun konsep umum Nujuh Hari, Patang Puluh Hari, Satus Hari, dan Nyewu dikenal luas di Jawa, detail perhitungan dan pelaksanaannya bisa sedikit berbeda di setiap daerah atau bahkan antar keluarga. Selalu baik untuk mengkonfirmasi dengan adat setempat.
Bagaimana jika saya tidak tahu hari pasaran wafat almarhum?
Anda bisa mencari tanggal wafat almarhum di kalender Jawa online yang biasanya menyediakan informasi hari pasaran secara akurat. Atau, jika ada kerabat lain yang lebih tua, mereka mungkin memiliki catatan atau ingatan tentang hari pasaran tersebut.
Bisakah selamatan dilakukan di hari yang berbeda dari perhitungan?
Dalam situasi tertentu yang tidak memungkinkan (misalnya keluarga jauh tidak bisa hadir, atau hari tersebut bertepatan dengan hari besar lain), selamatan bisa dimajukan atau dimundurkan satu atau dua hari. Namun, ini biasanya didiskusikan dan disepakati bersama keluarga, dengan tetap berpegang pada tanggal perhitungan sebagai acuan utama. Fleksibilitas ini biasanya diterapkan dengan bijak dan tidak mengubah esensi tujuan acara.
Apakah ada aplikasi atau tools yang bisa membantu perhitungan ini?
Ya, tentu saja! Di era digital ini, banyak aplikasi kalender Jawa atau situs web yang menyediakan fitur konversi tanggal Masehi ke Jawa lengkap dengan hari pasaran. Anda bisa mencari dengan kata kunci “kalender Jawa online” atau “hitung weton” di mesin pencari atau toko aplikasi ponsel Anda. Ini akan sangat memudahkan Anda.
Apa bedanya selamatan secara Islam dan secara adat Jawa?
Secara Islam, tidak ada tuntutan spesifik untuk mengadakan selamatan pada hari ke-7, 40, 100, atau 1000. Doa untuk almarhum dapat dipanjatkan kapan saja. Namun, tradisi selamatan ini merupakan bentuk akulturasi budaya Jawa dengan nilai-nilai Islam, di mana acara doa dibingkai dalam periode-periode waktu yang memiliki makna simbolis dalam kebudayaan Jawa. Jadi, ini lebih kepada cara mengemas doa bersama dalam sebuah tradisi yang sudah mengakar.
Kesimpulan: Menjalankan Tradisi dengan Keyakinan dan Ketenangan
Memahami cara menghitung hari selamatan orang meninggal memang memerlukan sedikit ketelitian, terutama dengan adanya kombinasi kalender Masehi dan Jawa.
Namun, dengan panduan ini, Anda kini memiliki pemahaman yang jelas tentang setiap tahapan perhitungan, mulai dari Nujuh Hari hingga Nyewu.
Ingatlah, inti dari semua selamatan ini adalah bentuk penghormatan dan doa tulus untuk almarhum, sekaligus menjadi momen penguat tali silaturahmi bagi keluarga yang ditinggalkan. Jangan biarkan kerumitan perhitungan menghalangi niat baik Anda.
Sekarang, dengan pengetahuan ini di tangan, Anda bisa merencanakan selamatan dengan lebih tenang dan percaya diri. Unduh aplikasi kalender Jawa yang relevan atau catat detail penting di kalender fisik Anda, dan mulailah merencanakan dengan penuh hikmah. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.